[SAGOO] ES POTENG NA TAPE, LEMBAYUNG SENJA DI KAMPOENG POPSA

By: Muhnurakbar
4.5 Muhnurakbar @CeritaPerut Halo Agang! (sapaan untuk teman dalam bahasa Makassar) Setelah sebelumnya Agang saya ajak menikmati hidangan Pallumara Mappanyukki di kota Makassar, kemudian beranjak ke Kaledo Stereo di kota Palu, sekarang… Halo Agang! (sapaan untuk teman dalam bahasa Makassar) Setelah sebelumnya Agang saya ajak menikmati hidangan Pallumara Mappanyukki di kota Makassar, kemudian beranjak ke Kaledo Stereo di kota Palu, sekarang… Visit us on Google+

Halo Agang! (sapaan untuk teman dalam bahasa Makassar)

Setelah sebelumnya Agang saya ajak menikmati hidangan Pallumara Mappanyukki di kota Makassar, kemudian beranjak ke Kaledo Stereo di kota Palu, sekarang saatnya kita kembali ke kota Daeng lagi nih; Bedanya kali ini saya akan berbagi cerita perut khas Makassar dengan kelas yang lebih ringan.

Makassar, kota di bagian timur Indonesia ini menyimpan begitu banyak pesona, mulai dari wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, hingga wisata kuliner yang memanjakan lidah. Namun ketika berkunjung ke Makassar, ada yang kurang lengkap jika tak merasakan sensasi senjanya; Menyempatkan waktu untuk bersantai menatap cakrawala, menanti matahari meredup yang menyisakan berkas jingga keemasan di langit kota adalah salah satu kebiasaan saya ketika pulang ke kampung halaman, begitu berkesan.

Kampoeng Popsa adalah tempat terbaik menghabisakan petang bagiku, di sini dengan jelas Agang dapat melihat matahari tenggelam dengan begitu menawan, suasananya lebih tenang dan nyaman ketimbang pantai Losari yang relatif lebih ramai. Terletak di jantung kota Makassar, Jalan Penghibur No. 4, tepat di depan Benteng Fort Rotterdam, tempat makan yang buka setiap harinya mulai pukul 10.00 hingga 23.30 waktu setempat ini selalu ramai oleh pengunjung, terutama pada waktu menjelang sore hingga malam hari. Tak sesuai namanya, tempat makan ini bukanlah sebuah perkampungan melainkan sebuah bangunan dua lantai dengan area terbuka yang langsung bersinggungan dengan pantai Losari. Dengan mengusung tema café classic dan foodcourt serta didukung dengan berbagai fasilitas seperti free wifi, live music, kolam ikan yang terdapat di tengah-tengah resto, telah sukses membuat pengunjung betah berlama-lama menghabiskan waktu, cozy abis. Berbagai makanan tersedia di sini, mulai dari makanan khas tradisional hingga makanan modern, salah satu yang paling unik dan enak adalah Es Poteng na Tape.

Seperti namanya, Poteng na Tape adalah makanan yang berbahan dasar singkong yang diberi ragi (poteng ) dipadukan dengan ketan yang juga diberi ragi (tape). Sebenarnya kedua makanan ini adalah makanan terpisah, es poteng adalah makanan khas Makassar yang banyak dijajakan oleh daeng-daeng pedagang yang sering terlihat di sekitar area padat penduduk, sedangkan tape hitam adalah makanan khas Bugis yang umumnya dihidangkan ketika ada hajatan, entah bagaimana keduanya kemudian berjodoh di Kampoeng Popsa. Dihidangkan dalam sebuah mangkuk, poteng yang berwarna kuning, tape yang berwarna merah hitam, serutan kelapa muda, serta ice cream vanila ditambah beberapa potongan buah terlihat begitu padu dan menarik: Plus aroma khas hasil fermentasi dari poteng dan tape sangat mengundang selera. Dan saat Agang coba masukkan ke mulut, hmmm.. kesan segar seketika terasa, rasa manis dan asam begitu legit, dan puncaknya yaitu ketika Agang menggigit potongan poteng dan tapenya, kejutan. Satu porsi Es Poteng na Tape di Kampoeng Popsa ini dihargai Rp 18.000 (harga tervalidasi Juli 2015), relatif terjangkau.

“Karena meski petang selalu berulang, namun lembayung senja tak akan pernah sama”

­Juara deh menikmati senja di Kampoeng Popsa ditemani hidangan unik Es Poteng na Tape. Silahkan datang dan coba, Agang pasti akan berharap agar senja tak cepat berlalu.

Mantap mentong deh!

 

#SagooFestivity


Penulis: Muhnurakbar

Data Analyst | Master's Deegre Student in Informatics Engineering | Backpacker | Freediver | Blogger & Travel Videos Maker | Visit me : vimeo.com/muhnurakbar

There are no comments

Post a comment