[SAGOO] KENIKMATAN PISANG EPE DALAM KEINDAHAN PANTAI LOSARI

By: Nurhidayat
4.5 Nurhidayat @CeritaPerut Padatnya aktifitas di awal Oktober membuat saya jenuh. Sepertinya, saya butuh refreshing hingga akhirnya saya dan suami memutuskan untuk ke Pantai Losari di akhir pekan. Bukan tanpa alasan kami memilih… Padatnya aktifitas di awal Oktober membuat saya jenuh. Sepertinya, saya butuh refreshing hingga akhirnya saya dan suami memutuskan untuk ke Pantai Losari di akhir pekan. Bukan tanpa alasan kami memilih… Visit us on Google+

Padatnya aktifitas di awal Oktober membuat saya jenuh. Sepertinya, saya butuh refreshing hingga akhirnya saya dan suami memutuskan untuk ke Pantai Losari di akhir pekan. Bukan tanpa alasan kami memilih Pantai Losari. Kami memilih Pantai Losari karena Pantai ini menyajikan pemandangan yang begitu indah khususnya di sore hari dan yang tak kalah menarik adalah saya bisa memenuhi hobby kuliner saya. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sembari menikmati keindahan panorama Pantai Losari, saya juga dapat berwisata kuliner. Dulu, ada yang menyebut Pantai Losari sebagai restoran terpanjang di dunia karena di sepanjang pantai ini berderet warung-warung yang menyediakan aneka kuliner yang nikmat. Kini, julukan restoran terpanjang di dunia itu sudah tidak ada, Pantai Losari telah direklamasi sedemikian indahnya dan menjadi salah satu ikon Kota Makassar yang cukup terkenal baik di tingkat nasional maupu internasional. Walaupun demikian, anda tidak perlu khawatir karena di sekitar Pantai ini terdapat banyak warung makan yang akan memanjakan anda. Kuliner yang sangat identik dengan Pantai Losari adalah pisang epe. Hmm, rasanya tidak sabar untuk mencicipi camilan yang satu ini. Ada rasa rindu tersendiri setiap kali mendengar kata “pisang epe”.

Selepas sholat Ashar, saya dan suami bergegas ke Pantai Losari. Losari memang banyak dikunjungi di sore hari begitupun dengan penjual pisang epe. Mereka menjual pisang epe disore hari sekitar pukul 16.00 WITA hingga larut malam. Perjalanan dari rumah menuju Pantai Losari sekitar 35 menit. Sesaat setelah suami saya memarkir kendaraannya maka seketika itu saya langsung mengajaknya menikmati “Pisang Epe”. Oia, parkir di pantai Losari “gratis”, ini merupakan salah satu komitmen Kota Makassar dalam menyediakan ruang publik di Kota Makassar.

Pisang epe dan Pantai Losari seakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Kuliner ini tetap eksis bahkan menjadi kuliner wajib saat berkunjung ke Pantai Losari. Tiga bahan utama pembuatan pisang epe adalah pisang kepok setengah matang, gula merah (dilelehkan lalu diberi daun pandan) dan parutan kelapa. Proses pembuatannya terbilang sederhana, pisang dibakar setengah matang terlebih dahulu. Setelah cukup lembek, pisang lalu diepe yang berarti dijepit, lebih tepatnya dipipihkan dengan menggunakan jepitan yang terbuat dari kayu untuk kemudian ditekan sampai pipih. Proses pembakaran dilakukan dua kali. Setelah itu pisang dibakar lagi di bara arang yang panas sampai agak gosong agar lebuh empuk dan renyah. Proses pembakarannya inilah yang membuat rasa pisang epe berbeda jika kita membuat sendiri di rumah dan membakarnya di atas kompor. Setelah itu pisang disajikan di dalam piring lalu diberi gula merah dan parutan kelapa di atasnya. Pisang epe seperti ini disebut pisang epe biasa (original). Dulu varian pisang epe hanya original tetapi sekarang varian rasanya beragam seperti coklat, keju bahkan durian. Pisang epe dijual di sepanjang jalan Pantai Losari. cukup merogoh uang sebesar Rp.10.000,- anda sudah menikmati satu porsi pisang epe. Dari sekian banyak penjual pisang epe, anda tidak perlu bingung memilih karena rata-rata enak namun saya punya cara tersendiri dalam memilih, caranya pilih pedagang yang berjualan di dalam area pagar Pantai Losari agar anda dapat menikmati keindahan senja dan merasakan desiran ombak lebih dekat. Selain itu pilih pedagang yang menyediakan banyak pisang. Ini dapat menjadi pertanda pisang epenya laris. Pisang epe di Pantai Losari menggunakan pisang, gula dan kelapa local. Menikmati pisang epe berarti ikut mengembangkan ekonomi kerakyatan dan menjadikan pisang Epe sebagai tuan rumah di daerah sendiri. Kebiasaan unik kami saat menyantap pisang epe biasanya kami hanya memesan seporsi untuk berdua, setelah itu kami akan memesan lagi namun dengan rasa yang berbeda. Kebiasaan unik memang terlihat aneh namun ada kenikmatan tersendiri saat menikmatinya dalam kondisi pisang yang masih panas/hangat bersama pasangan. Setelah puas menikmati Pisang epe barulah kami mengelilingi pantai Losari. Tak lupa sebelum pulang, kami membeli pisang epe untuk keluarga di rumah. Tertarik ingin mencicipi pisang epe? Segera ke Pantai Losari. Nikmati manisnya pisang epe dan nikmati keindahan pantainya! #SagooFestivity

There are no comments

Post a comment